Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI IPA Pada Materi Virus Berbasis Masalah di Sma Negeri 1 Stabat
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI pada materi virus SMA Negeri 1 Stabat dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah. Jenis penelitian yang dilakukan adalah metode exsperimen semu (quasi-experiment research). Desain penelitian yang digunakan adalah “pra-tes dan pasca-tes dengan kelompok-kelompok tidak acak” atau non equivalent pretes control group design. Cara pengambilan sampel dilakukan dengan Teknik sampel Random Sampling. Tes yang diberikan merupakan tes kemampuan berpikir tingkat tinggi. Persentase siswa yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan kategori sangat baik adalah 16,614, 66767%. Selanjutnya, 26,667% memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan kategori baik; 30,000% memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi terkategori cukup; 23,667% memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi terkategori kurang; dan tidak ada yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan kategori sangat kurang. Indikator menganalisis memiliki persentase kemunculan tertinggi yaitu sebesar 71, 435%. Kemudian, kemunculan pada indikator mengevaluasi adalah sebesar 70,000%, dan indikator dengan persentase kemunculan terendah adalah mengkreasi yaitu sebesar 33, 317%.
Referensi
Ayubi, A, I, I., Erwanudin, Bernard, M. (2018). Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMA. Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif. 1 (3): 2614-2155.
Brookhart, S. M. (2010). How to assess higher-order thinking skills in your classroom. Alexandria: ASCD.
Furchan, A., 2004, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gradini, E. (2019). Menilik Konsep Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skills) dalam Pembelajaran Matematika. Jurnal Numeracy. 6 (2): 189-203.
Haryati. (2018). Pengaruh Model Pembelajaran Terhadap Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi dan Keterampilan Proses Sains serta Sikap Ilmiah Siswa pada Materi Ekologi. Tesis : Program Pascasarjana Unimed.
Ibrahim, M., dan Nur M., 2011. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: Unesa University Press.
Krathwohl,, A revision of bloom’s aTaxonomy: an overview. Theory Into Practice, College of Education, The Ohio State University. 41 (4): 1-8.
Kurniati, D., Harimukti, R & Jamil, A, N. (2016). Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa SMP di Kabupaten Jember Dalam Menyelesaikan Soal Berstandar PISA. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. 20 (2) : 142- 155.
Mailizar, N. (2018). Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Materi Virus Kelas X MAN 4 Aceh Besar. Skripsi: Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam-Banda Aceh.
PISA. (2015). PISA Results to Execitive Summary OECD (http//dx.doi.org/10.1787/42).
Pohl. (2000). Learning toThink, Thinking to Learn: tersedia di www.purdue.edu/geri
Samatowo, U. (2010). Bagaimana Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.
Sugiyono, 2001, Statistika untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta.
Sugiyono, 2005, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta.
Sulamiasih, k, N., Dantes, N & Candiasa, M, I. (2015). Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VI SD Gugus II Kecamatan Tejakula Tahun Pelajaran 2014/2015. Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan Dasar. Volume 5.
